Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat mengusulkan penambahan armada helikopter untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah selatan dan timur Kalimantan Barat yang memiliki jarak tempuh cukup jauh dari pusat operasi.
Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan saat ini Kalimantan Barat didukung lima unit helikopter yang terdiri atas tiga helikopter patroli dan dua helikopter water bombing.
“Untuk saat ini kami memiliki lima unit helikopter, terdiri dari tiga helikopter patroli dan dua helikopter water bombing yang digunakan untuk mendukung operasi penanganan karhutla,” ujar Daniel.
Meski demikian, menurutnya, jumlah armada tersebut masih belum mampu menjangkau seluruh wilayah Kalimantan Barat secara optimal, terutama daerah yang memiliki jarak cukup jauh seperti Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu.
Ia menjelaskan, luas wilayah Kalimantan Barat menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan operasi udara. Waktu tempuh yang cukup panjang membuat respons terhadap kejadian karhutla di wilayah tertentu membutuhkan waktu lebih lama.
“Wilayah Kalimantan Barat sangat luas. Untuk daerah seperti Ketapang dan Kapuas Hulu, jangkauan dari armada yang ada saat ini masih menjadi tantangan sehingga kami membutuhkan dukungan tambahan agar respons bisa lebih cepat,” jelas Daniel.
Untuk meningkatkan efektivitas penanganan, BPBD Kalbar telah mengusulkan penempatan tambahan helikopter di Kabupaten Ketapang. Kehadiran armada tersebut diharapkan dapat mempercepat mobilisasi personel serta operasi patroli dan water bombing di wilayah selatan maupun timur Kalimantan Barat.
“Kami sudah mengusulkan penambahan helikopter yang ditempatkan di Ketapang. Dengan begitu, penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat dan jangkauan operasi udara bisa mencakup seluruh wilayah Kalimantan Barat secara lebih efektif,” katanya.
Daniel menambahkan, dukungan armada udara menjadi pelengkap operasi pemadaman di lapangan. Sementara itu, satuan tugas darat tetap menjadi garda terdepan dalam penanganan awal kebakaran, terutama pada lokasi yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat dan memiliki sumber air yang memadai.
Menurutnya, sinergi antara operasi darat dan udara menjadi kunci agar upaya pengendalian karhutla dapat berjalan lebih optimal selama musim kemarau.

