PONTIANAK– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat terus meningkatkan koordinasi penanganan banjir yang masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sintang, Kubu Raya, dan Kapuas Hulu. Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan debit sungai meningkat dan mengakibatkan permukiman warga terendam.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kalbar per 18 Mei 2026, kondisi di sejumlah lokasi terdampak masih terus dipantau bersama BPBD kabupaten, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa guna memastikan keselamatan masyarakat serta mempercepat penanganan di lapangan.
Koordinator Harian Pusdalops PB BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan hujan yang mengguyur wilayah hulu sungai menjadi penyebab utama meningkatnya debit air di beberapa daerah.
“Petugas terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi banjir. Kami juga berkoordinasi dengan seluruh unsur di daerah agar penanganan dapat berjalan cepat dan masyarakat tetap memperoleh informasi terkini,” ujarnya, Senin (18/5/2026).
Di Kabupaten Sintang, banjir terjadi di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, dan Kelam Permai. Total sebanyak 23 desa terdampak dengan jumlah mencapai 2.718 kepala keluarga. Selain merendam rumah warga, banjir juga mengakibatkan sebuah jembatan penghubung di Desa Bengkuang, Kecamatan Kelam Permai, mengalami kerusakan sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
BPBD juga menerima laporan adanya dua rumah warga yang hanyut akibat derasnya arus banjir. Hingga saat ini belum terdapat laporan korban jiwa maupun warga yang mengungsi, namun kebutuhan logistik dan peralatan penunjang penanganan masih terus diinventarisasi.
Di Kabupaten Kubu Raya, banjir merendam Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang. Sedikitnya 766 kepala keluarga atau sekitar 2.400 jiwa terdampak di empat dusun yang tersebar pada 14 RT dan 4 RW. Tim Reaksi Cepat BPBD bersama pemerintah desa telah melakukan asesmen dan pendataan terhadap kondisi warga serta fasilitas umum.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Kapuas Hulu masih terjadi di Kecamatan Silat Hilir yang meliputi Desa Nanga Nuar, Bongkong, dan Rumbih. Sekitar 50 rumah dilaporkan terendam, sedangkan jumlah warga terdampak masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan.
Menurut Daniel, sejumlah kebutuhan mendesak yang dibutuhkan masyarakat meliputi bahan pangan, air bersih, obat-obatan, serta sarana pendukung evakuasi seperti perahu karet. Selain itu, gangguan akses komunikasi di beberapa wilayah juga menjadi tantangan dalam proses penanganan.
BPBD Kalbar terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan tinggi muka air sungai dan menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah bantaran sungai dan wilayah rawan bencana hidrometeorologi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi. Segera laporkan kepada aparat setempat apabila kondisi air meningkat atau terjadi keadaan darurat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Daniel.
Selain mendukung penanganan di lapangan, BPBD Provinsi Kalimantan Barat juga menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah daerah terdampak sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban warga hingga kondisi banjir berangsur surut.

