Prediksi BMKG Awal September Kalbar Diguyur Hujan, Gubernur Norsan Tekankan Penanganan Karhutla Tetap Maksimal

KUBURAYA – Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyebut adanya prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa sejumlah wilayah Kalimantan Barat berpotensi diguyur hujan pada awal September 2026.
Norsan mengatakan, berdasarkan perkiraan BMKG, peluang hujan tersebut diprediksi terjadi mulai 3 hingga 9 September. Kondisi ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalbar.
Hal tersebut disampaikan Norsan saat meninjau kondisi karhutla di kawasan Sekunder C, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, pemerintah juga terus mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan bibit awan yang dapat disemai.
“OMC ini tergantung bibit awan. Kalau tidak ada bibit awan, maka OMC tidak bisa ditabur. Kalau ada titik awan, ditabur di awan, maka bisa terjadi hujan,” kata Norsan.
Karena itu, Norsan berharap kondisi atmosfer mendukung dan bibit awan tersedia sehingga OMC dapat dilakukan untuk membantu mempercepat turunnya hujan.
“Mudah-mudahan dari tanggal 3 sampai tanggal 9 ada hujan. Kita juga berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar Allah turunkan hujan,” tambahnya.
Norsan menegaskan, seluruh pihak saat ini harus bersatu menghadapi persoalan karhutla tanpa saling menyalahkan. Menurutnya, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah, aparat, masyarakat hingga dukungan kondisi cuaca.
“Jangan lagi ada salah menyalahkan. Kita sekarang sama-sama mengatasi masalah yang kita hadapi. Satu masalah, kebakaran tanah dan lahan, itu saja yang kita hadapi,” tegasnya.
Sementara itu, Norsan menyebut luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat telah mencapai sekitar 38 ribu hektare. Dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik panas, jumlah titik dengan tingkat kepercayaan tinggi berdasarkan data terbaru berada di angka 157 titik.
Namun, jumlah titik panas tersebut masih dapat berubah dengan cepat. Norsan menyebut kondisi angin serta aktivitas pembakaran menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan kenaikan titik panas dalam waktu singkat.
Dengan adanya potensi hujan dan upaya OMC, pemerintah berharap kondisi karhutla di Kalbar dapat segera terkendali.



