Sekolah di Pontianak Tanpa Biaya, 50 Pelajar 3T Kalbar Dapat Beasiswa ADEM

PONTIANAK – Sebanyak 50 pelajar dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kalimantan Barat mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di sejumlah SMA dan SMK Negeri di Kota Pontianak melalui Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Tahun Ajaran 2026/2027.
Tak hanya mendapatkan kesempatan bersekolah di Pontianak, seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan hidup para peserta selama mengikuti program ditanggung oleh pemerintah pusat.
Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah membuka akses pendidikan berkualitas bagi pelajar berprestasi yang berasal dari wilayah 3T.
Prosesi serah terima dan pembekalan peserta ADEM berlangsung di Hotel Gajahmada Pontianak, Jumat (17/7/2026). Kegiatan dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dinas Pendidikan dari kabupaten asal peserta serta kepala SMA dan SMK Negeri di Pontianak yang menjadi sekolah penerima peserta Program ADEM.
Dalam arahannya, Syarif Faisal mengatakan Program ADEM tidak sekadar memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga menjadi sarana untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi pelajar dari daerah 3T agar dapat memperoleh pengalaman belajar di lingkungan pendidikan yang lebih beragam.
Ia menilai pemerataan kualitas pendidikan di Kalimantan Barat terus menunjukkan perkembangan. Salah satunya terlihat dari hasil pemeringkatan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang menunjukkan sekolah dengan capaian terbaik telah tersebar di berbagai daerah.
“Kalau melihat perangkingan UTBK, sekitar 30 sekolah terbaik sudah tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Ini menunjukkan pemerataan kualitas pendidikan terus mengalami kemajuan. Salah satu upaya mendukung pemerataan tersebut adalah melalui Program ADEM yang telah berjalan sejak 2012,” ujarnya.
Menurut Faisal, para peserta ADEM merupakan siswa berprestasi yang telah melalui proses seleksi di daerah masing-masing. Program ini tidak hanya ditujukan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi lebih menitikberatkan pada siswa berprestasi dari wilayah 3T yang memenuhi persyaratan.
“Peserta dipilih melalui proses seleksi di tingkat kabupaten berdasarkan rekomendasi Dinas Pendidikan setempat. Nilai akademik menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan penerima beasiswa,” jelasnya.
Ia pun meminta para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh. Selama belajar di Pontianak, para siswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus menunjukkan prestasi.
“Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalian akan belajar di sekolah-sekolah terbaik, sehingga harus mampu menyesuaikan diri, menjaga sikap, disiplin, dan menunjukkan prestasi. Buktikan bahwa siswa dari daerah 3T memiliki kemampuan yang sama dan mampu bersaing,” tegasnya.
Selain biaya pendidikan, pemerintah pusat juga menanggung kebutuhan hidup para peserta selama mengikuti program. Untuk tempat tinggal, siswa akan didampingi orang tua asuh yang sebagian besar berasal dari guru di sekolah penerima.
“Pemerintah pusat menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup mereka. Untuk tempat tinggal, mereka akan didampingi oleh orang tua asuh yang berasal dari guru-guru di sekolah penerima sehingga pembinaan terhadap siswa dapat berjalan lebih maksimal,” ungkap Faisal.
Tahun ini, 50 peserta ADEM ditempatkan di tujuh sekolah negeri di Kota Pontianak. Sekolah tersebut yakni SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 3 Pontianak, SMA Negeri 7 Pontianak, SMA Negeri 8 Pontianak, SMK Negeri 1 Pontianak, SMK Negeri 5 Pontianak, dan SMK Negeri 9 Pontianak.
Masing-masing sekolah menerima sekitar lima hingga enam peserta.
Para penerima beasiswa berasal dari sejumlah wilayah di Kalimantan Barat, di antaranya Kabupaten Sintang, Kapuas Hulu, Bengkayang, Sanggau, dan Sambas. Beberapa peserta juga berasal dari kawasan perbatasan, termasuk Ketungau dan Badau.
Faisal juga mengingatkan pentingnya komunikasi antara siswa, orang tua, orang tua asuh, dan pihak sekolah. Menurutnya, komunikasi yang baik diperlukan agar berbagai kendala yang muncul selama siswa beradaptasi di lingkungan baru dapat segera ditangani.
“Jika ada kendala, segera sampaikan agar dapat segera ditindaklanjuti dan dicarikan solusi bersama. Komunikasi yang baik menjadi kunci keberhasilan program ini,” katanya.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap para pelajar 3T tidak hanya memperoleh akses pendidikan yang lebih luas, tetapi juga mampu meningkatkan kompetensi dan daya saing.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para siswa diharapkan dapat membawa pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh di Pontianak untuk turut berkontribusi dalam pembangunan daerah asal mereka.



