• Home  
  • BPBD Kalbar Tingkatkan Kesiapsiagaan, 485 Hotspot Terdeteksi di Kalbar pada 20 Juli
- Kalbar

BPBD Kalbar Tingkatkan Kesiapsiagaan, 485 Hotspot Terdeteksi di Kalbar pada 20 Juli

PONTIANAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 485 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat pada 20 Juli 2026.   Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, mengatakan Kabupaten Ketapang masih menjadi […]

PONTIANAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 485 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat pada 20 Juli 2026.

 

Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, mengatakan Kabupaten Ketapang masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak sehingga menjadi salah satu prioritas pemantauan dan penanganan bersama seluruh unsur terkait.

 

“Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, terdapat 485 titik panas di Kalimantan Barat. Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi sehingga menjadi fokus pemantauan bersama BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, serta seluruh unsur satgas penanggulangan karhutla,” ujar Daniel.

 

Berdasarkan data BMKG, dari total 485 hotspot yang terpantau, sebanyak 14 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 462 titik tingkat kepercayaan menengah, dan 9 titik tingkat kepercayaan tinggi.

 

Sebaran hotspot menunjukkan Kabupaten Ketapang mencatat 142 titik panas, diikuti Kabupaten Sanggau sebanyak 97 titik, Kayong Utara 61 titik, Sintang 43 titik, Kubu Raya 33 titik, Kapuas Hulu dan Landak masing-masing 31 titik, Sekadau 28 titik, Melawi 17 titik, serta Sambas dan Mempawah masing-masing satu titik. Sementara itu, Bengkayang, Kota Pontianak, dan Kota Singkawang tidak terdeteksi adanya hotspot.

 

Daniel menegaskan bahwa keberadaan hotspot tidak selalu menunjukkan telah terjadi kebakaran. Oleh karena itu, setiap titik panas yang terdeteksi akan diverifikasi melalui patroli dan pengecekan lapangan oleh tim gabungan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

 

“Hotspot merupakan indikator awal yang perlu diverifikasi. Tidak semua titik panas merupakan kebakaran, sehingga kami terus melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi yang sebenarnya,” jelasnya.

 

BPBD Kalbar terus memperkuat patroli darat, pemantauan wilayah rawan, serta koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila ditemukan titik api.

 

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Memasuki musim kemarau, kewaspadaan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gritalk  @2026. All Rights Reserved.