Terdampak Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan, Pembelajaran Siswa SMA/SMK Dialihkan ke Daring
Orang Tua Diminta Awasi Anak di Rumah
GRITALK.COM, PONTIANAK – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Barat mengalihkan sementara pelaksanaan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran secara daring atau online bagi SMA, SMK, dan SLB Negeri maupun Swasta se-Kalimantan Barat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kebijakan tersebut berlaku mulai 11 hingga 14 Agustus 2026, menyusul kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kalbar yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, mengatakan kebijakan tersebut merupakan langkah antisipatif untuk melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik di tengah kondisi kualitas udara yang menurun.
“Kita melihat kondisi kualitas udara di beberapa wilayah Kalimantan Barat yang terdampak asap akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, untuk sementara pembelajaran tatap muka dialihkan menjadi pembelajaran daring,” ujar Syarif Faisal , pada 10 Agustus 2026.
Keputusan dalam Surat Edaran tersebut juga mempertimbangkan data dan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kalimantan Barat yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) serta penurunan kualitas udara atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga kategori tidak sehat di sejumlah kabupaten/kota.
Syarif menegaskan, meskipun pembelajaran dilakukan secara daring, proses pendidikan tetap harus berjalan sesuai jadwal dengan memanfaatkan sarana dan platform pembelajaran yang tersedia.
Ia meminta agar seluruh guru memberikan materi, tugas, pembelajaran, dan asesmen secara proporsional dengan tetap memperhatikan kondisi peserta didik serta tidak memberikan beban tugas yang berlebihan selama pembelajaran daring.
Selain sekolah, peran orang tua dinilai sangat penting dalam memastikan pembelajaran anak tetap berjalan selama berada di rumah.
“Kami juga meminta orang tua untuk aktif mengawasi dan mendampingi anak selama pembelajaran daring di rumah. Jadi, meskipun anak tidak datang ke sekolah, proses belajar tetap harus mendapatkan pendampingan dari orang tua,” tegasnya.
Ia juga dengan tegas meminta agar para orang tua membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kondisi kualitas udara belum membaik. Jika anak harus melakukan aktivitas di luar rumah, Syarif mengingatkan agar orang tua memastikan anak menggunakan masker sebagai bentuk perlindungan dari paparan asap dan polusi udara.
“Yang tidak kalah penting, aktivitas anak di luar rumah juga perlu dibatasi. Kalau memang harus keluar rumah, pastikan menggunakan masker. Ini bagian dari upaya kita bersama untuk menjaga kesehatan anak-anak,” katanya.
Syarif juga meminta kepala sekolah berkoordinasi dengan guru, tenaga kependidikan, peserta didik, serta orang tua atau wali untuk memastikan pelaksanaan pembelajaran daring berjalan efektif dan seluruh peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, sekolah juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan dan keselamatan peserta didik, termasuk mereka yang terdampak kualitas udara maupun peserta didik yang memiliki keterbatasan akses terhadap perangkat dan jaringan internet.
Selain itu, ia menjelaskan bagi SMK dan SLB, pelaksanaan pembelajaran akan disesuaikan dengan karakteristik satuan pendidikan, kompetensi pembelajaran, serta kebutuhan khusus peserta didik dengan tetap mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan.
“Sekolah juga kami minta melakukan pemantauan dan evaluasi selama pembelajaran daring. Jika ada kendala, dapat segera dikoordinasikan dan dilaporkan kepada Disdikbud Kalbar,” jelas Syarif.
Sementara itu, pelaksanaan pembelajaran setelah 14 Agustus 2026 akan menyesuaikan perkembangan kondisi kualitas udara serta kebijakan lebih lanjut dari Disdikbud Provinsi Kalimantan Barat.
Dengan kebijakan tersebut, Disdikbud Kalbar berharap proses pembelajaran tetap berlangsung tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan peserta didik di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla.




