PONTIANAK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Barat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah menyusul masih berlakunya status siaga darurat di sejumlah kabupaten. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu banjir, angin kencang, tanah longsor, hingga gelombang pasang.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, terdapat enam kabupaten yang masih menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Basah, yakni Kabupaten Mempawah, Ketapang, Sanggau, Kubu Raya, Sintang, dan Sambas.
Ketua Satuan Tugas Informasi Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan penetapan status siaga darurat bertujuan mempercepat langkah antisipasi, koordinasi lintas instansi, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan apabila terjadi bencana.
“Status siaga darurat merupakan langkah antisipatif agar seluruh unsur penanggulangan bencana dapat bergerak lebih cepat dan terkoordinasi. Kami mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Daniel.
Sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan, BPBD Kalbar terus melakukan pemantauan kondisi cuaca, patroli di wilayah rawan, penyebaran informasi peringatan dini, serta berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota untuk memastikan kesiapan personel dan logistik.
Daniel menambahkan, masyarakat juga diharapkan segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi menimbulkan bencana agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas.
Salah satu kejadian yang menjadi perhatian terjadi di Kabupaten Ketapang. Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Ketapang pada Senin (15/6/2026), banjir rob melanda kawasan Jalan S. Parman, Kelurahan Mulia Baru, Kecamatan Delta Pawan akibat curah hujan tinggi yang disertai pasang air laut.
Selain genangan, petugas juga melakukan evakuasi ular yang masuk ke rumah warga akibat banjir. BPBD Kabupaten Ketapang bersama unsur terkait langsung melakukan pemantauan di lokasi serta mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lanjutan.
“Setiap laporan kejadian langsung kami tindak lanjuti bersama BPBD kabupaten/kota. Selain penanganan di lapangan, kami juga terus memperkuat koordinasi agar respons terhadap bencana dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu,” kata Daniel.
Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat.
“Kami mengajak masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca dari sumber resmi, menjaga keselamatan diri dan keluarga, serta segera melapor apabila terjadi kondisi darurat. Kolaborasi semua pihak menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana di Kalimantan Barat,” pungkas Daniel.

